SUJUD SAHWI

Sujud sahwi adalah: Suatu istilah untuk dua sujud yang dikerjakan oleh orang yang shalat, fungsinya untuk menambal celah-celah yang kurang dalam shalatnya kerena lupa.

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengerjakan sujud sahwi ada tiga macam: menambahkan sesuatu (az-ziyaadah), menghilangkan sesuatu (an-naqsh), dan dalam keadaan ragu-garu (as-syak).

 I.      MENAMBAHKAN SESUATU (Az-Ziyaadah)

Jika seseorang shalat menambahkan sesuatu dengan sengaja dalam berdiri, duduk, ruku, atau sujud, maka shalatnya batal. Namun jika ia melakukannya karena lupa dan tidak ingat atas penambahan tersebut sampai ia menyelesaikan­nya, maka tidak ada sesuatu atasnya kecuali sujud sahwi dan shalatnya menjadi benar. Namun jika ia mengingatnya ketika sedang melakukan penambah­an tersebut, maka wajib baginya untuk me­ninggalkan (membatalkan) penambahan tersebut kemudian melakukan sujud sahwi (yakni di akhir shalat) dan shalatnya menjadi benar.

Contohnya seseorang yang shalat zhuhur lima raka’at, tetapi ia tidak mengingat bahwa ia telah menambah (raka’at) kecuali ketika (ia dalam keadaan) tasyahud. Maka ia harus menyelesaikan tasyahud tersebut lalu melakukan salam kemudian sujud sahwi lalu melakukan salam lagi. Namun jika ia tidak mengingat penambahan tersebut kecuali setelah salam, maka ia harus melakukan sujud sahwi kemian melakukan salam lagi (ketika ia ingat setelah melakukan salam setelah shalat). Dan jika ia mengingat penambahan tersebut pada saat ia berdiri pada saat raka’at kelima, maka ia harus duduk kemudian tasyahud dan salam, kemudian sujud sahwi lalu salam lagi.

Dalilnya adalah:

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ :أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ. وَفِي رِوَايَةٍ فَثَنَى رِجْلَيْهَ وَاسْتَقْبَلَ القِبْلِةَ فَسَجَدَ سَجَدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ .رواه الجماعة

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه1 yang berkata: “Nabi صلى الله عليه وسلمshalat Zhuhur lima rakaat, maka seseorang bertanya, “Apakah ada penambahan dalam shalat?” Beliau berkata, “Kenapa begitu?” Mereka berkata, “Engkau shalat lima (raka’at)”. Maka beliau sujud dua kali setelah salam.” Dalam satu riwayat“…maka beliau melipat kedua kakinya dan menghadap Kiblat, lalu melakukan dua sujud, kemudian salam.”(HR Jama’ah)2

II.    SALAM SEBELUM SHALAT SEMPURNA

Salam sebelum sempurna (selesai) shalat juga termasuk penambahan dalam shalat3. Maka barangsiapa yang salam sebelum menyempurnakan shalat secara sengaja, maka shalatnya batal.

Namun jika hal tersebut dilakukan karena lupa atau ia tidak ingat sampai waktu yang lama maka ia harus mengulangi shalatnya kembali. Jika ia mengingatnya sesaat kemudian, misalnya setelah dua atau tiga menit kemudian, maka ia harus menyempurnakan shalatnya lalu salam dan kemudian sujud shawi dan melakukan salam lagi.

Dalilnya adalah:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ- قَالَ : أَنَّاَلنَّبِيُّصلىالله عليه وسلم صَلَى بِهِمُ الظُهْرِ أَو العَصْرِ فَسَلَّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ فَخَرَجَ السُّرْعَانِ مِن أَبْوَاِب المَسْجِدِ يَقُولُونَ:أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ وَقَمَ اَلنَّبِيُّ صلىالله عليه وسلم قَامَإِلَى خَشَبَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَاتَّكَأَ عَلَيهَا كَأَنَّهُ غَضْبَانٌ ، فَقَامَ رَجُلٌفَقَالَ يَا رَسُولُ الله : أَنَسِيتَ أَم قُصِرَتِ الصَّلاَةِ ؟فَقَالَ النبي صلى الله عليه وسلم : لَمْ أَنْسَ وَ لَمْ تُقْصَرُ ، فَقَالَ الرَّجُلُ : بَلَى قَدْ نَسِيتَ فَقَالَ النبي صلى الله عليه وسلم لِلصَّحَابَةِ : أَحَقَّ مَا يَقُولُ ؟ قَالُوا : نَعَمْ ، فَتَقَدَّمَ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى مَا بَقِيَ مِنْ صَلاَتِهِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه”Bahwasannya Nabi صلى الله عليه وسلم shalat Dzhuhur atau Ashar bersama mereka dan melakukan salam setelah dua raka’at. Kemudian beliau memisahkan diri dengan cepat ke salah satu pintu masjid, dan orang-orang berkata bahwa shalat telah diqashar. Sementara itu Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri di samping sebatang kayu yang ada di dalam masjid, bersandar padanya seolah beliau sedang marah. Maka salah seorang berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau lupa atau shalat telah diqashar?” Nabi صلى الله عليه وسلم berkata: “Aku tidak lupa dan shalat tidak diqashar” Maka laki-laki tersebut berkata, “Tidakkah engkau telah lupa?” Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepada para sahabat: “Apakah ia berkata benar?” Mereka menjawab: “Ya.” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم kembali dan melakukan shalat yang tersisa dan kemudian salam, lalu beliau sujud dua kali, kemudian melakukan salam.” [Mutafaq alaihi]4

Dan apabila lmam salam sebelum menyempurna­kan shalatnya dan ada sebagaian makmum yang tertinggal sebagian shalat dan berdiri untuk menyelesaikan bagian shalat yang tertinggal, dan kemudian imam ingat bahwa ada sesuatu yang tidak sempurna dalam shalatnya yang harus disempurnakannya, kemudian ia berdiri untuk menyempurnakannya, maka dalam keadaan ini makmum yang telah berdiri untuk menyempurna­kan bagian shalat yang tertinggal memiliki pilihan antara melanjutkan melaksanakan apa yang terlewatkan oleh mereka dan melakukan sujud sahwi; dan (atau) kembali mengikuti imam – dan melakukan salam untuk menyelesaikan bagian shalat yang terlewatkan – dan kemudian sujud sahwi setelah melakukan salam, dan ini lebih sesuai dan lebih berhati-hati.

III.  PENGURANGAN (An-Naqsh)

A.      Pengurangan Rukun Shalat

Jika seseorang mengurangi (tidak mengerjakan) salah satu rukun dalam shalatnya seperti takbir awal (takbiratul ihram), maka tidak ada shalat baginya. Baik dilakukan dengan sengaja atau lupa, karena sesungguhnya shalatnya belum didirikan.

Dan jika yang ditinggalkan itu adalah rukun shalat selain takbiratul ihram, dan ditinggalkan dengan sengaja, maka shalatnya batal. Namun jika ditinggalkan karena lupa, lalu ia meneruskan shalatnya dan mendapatinya (rukun yang ditinggal­kan tersebut-pent.) pada raka’at berikutnya, maka ia melaksanakan raka’at yang dilupakannya pada saat itu dan yang mengikutinya pada tempatnya. Jika ia belum mencapai tempatnya pada raka’at berikut­nya, maka wajib baginya untuk kembali pada rukun yang ditinggalkannya dan melakukannya dan apapun yang datang setelahnya. Dalam setiap keadaan ini, wajib baginya untuk melakukan sujud sahwi setelah salam.

Misalnya seseorang yang lupa sujud kedua pada raka’at pertama, namun mengingatkan pada saat duduk diantara dua sujud pada raka’at kedua. Maka ia harus membuang raka’at pertama dan raka’at kedua menempati tempatnya (mengganti­kan raka’at pertama-pent.), maka ia menghitungnya sebagai raka’at yang pertama dan menyempurnakan   shalatnya   berdasarkan    hal tersebut. Kemudian ia salam lalu sujud sahwi dan salam lagi.

Contoh lain: seseorang yang lupa sujud kedua dan duduk diantara dua sujud pada raka’at pertama. Namun ia mengingatnya setelah berdiri dari ruku’ pada raka’at kedua. la harus kembali duduk dan sujud, dan kemudian melanjutkan shalatnya dari situ. Kemudian ia salam, sujud sahwi dan salam.

B.  Pengurangan Kewajiban

Jika seseorang yang shalat meninggalkan suatu kewajiban diantara kewajiban di dalam shalat secara sengaja, maka shalatnya batal. Tetapi jika hal itu dilakukannya karena lupa dan ia mengingat­nya sebelum melanjutkan dari tempatnya pada shalat tersebut, maka ia harus melakukannya dan tidak ada sesuatu atasnya.

Jika ia mengingatnya setelah melanjutkan dari tempatnya di dalam shalat, tetapi belum mencapai rukun yang mengikutinya, maka ia harus kembali (pada apa yang ditinggalkannya) dan melakukan­nya, lalu ia menyempurnakan shalatnya hingga salam, lalu sujud sahwi dan salam. Akan tetapi jika ia mengingatnya setelah mencapai rukun shalat yang mengikutinya, maka hal tersebut batal dan ia tidak boleh kembali untuk melaksanakannya. Akan tetapi setelah ia menyelesaikan shalatnya ia sujud sahwi terlebih dahulu sebelum salam.

Contohnya: ketika seseorang bangkit dari sujud kedua pada raka’at kedua untuk melakukan raka’at ketiga, tertapi ia lupa melaksanakan tasyahud. Dan ia mengingatnya sebelum benar-benar berdiri untuk melaksanakan raka’at ketiga, maka ia harus kembali pada posisi duduk untuk melakukan tasyahud dan menyempurnakan shalatnya. Maka dalam hal ini tidak ada sesuatu (kewajiban) atasnya (melakukan sujud sahwi). Namun demikian, apabila ia mengingatnya setelah berdiri namun sebelum tegak, maka ia harus kembali ke posisi duduk dan melakukan tasyahud, kemudian menyelesaikan shalatnya hingga salam, lalu sujud sahwi dan salam lagi.

Jika ia mengingatnya setelah berdiri tegak, maka tasyahud tersebut batal baginya. Kemudian ia harus meneruskan dan menyempurnakan shalat-nya, lalu sujud sahwi sebelum salam.

Dalilnya adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ بُحَيْنَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ-  أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ  فَقَامَ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ اَلْأُولَيَيْنِ  وَلَمْ يَجْلِسْ (يَعْنِي لِلتَّثَهُدِ الأَوَّلِ)   فَقَامَ اَلنَّاسُ مَعَهُ  حَتَّى إِذَا قَضَى اَلصَّلَاةَ  وَانْتَظَرَ اَلنَّاسُ تَسْلِيمَهُ  كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ  فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ  قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ  ثُمَّ سَلَّمَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

dari Abdullah bin Buhainah رضي الله تعالى عنهBahwasannya Nabi صلى الله عليه وسلم memimpin mereka dalam shalat Dzhuhur. Beliau langsung berdiri setelah dua صلى الله عليه وسلم raka’at pertama dan tidak duduk (untuk tasyahud awal), para jama’ah pun berdiri mengikutinya. Kemudian ketika hampir menyempurnakan shalat dan orang-orang me­nunggu salam beliau, beliau bertakbir dalam keadaan duduk dan melakukan dua sujud dua kali sebelum salam, kemudian beliau salam.”5

 IV.   RAGU-RAGU (Syak)

Ragu adalah tidak yakin terhadap dua keadaan yang timbul, dan keraguan tidak diperhitungkan dalam perkara ibadah dalam tiga hal:

  1. Jika hal tersebut hanya merupakan hayalan seseorang yang bukan merupakan kenyataan seperti was-was.
  2. Jika hal tersebut muncul secara terus-menerus pada seseorang bahwa ia tidak melakukan suatu ibadah kecuali bahwa ia meragukannya.
  3. Jika hal tersebut muncul setelah me­nyempurnakan ibadah. Maka yang demikian tidak diperhitungkan selama ia tidak yakin atasnya, dan dalam hal ini ia harus beramal terhadap apa yang ia yakini.

Contohnya: seseorang mengerjakan shalat Dzhuhur. Setelah menyelesaikan shalatnya ia ragu apakah ia shalat tiga atau empat raka’at. Dan ia tidak memperdulikan keraguan ini kecuali ia yakin bahwa ia hanya shalat tiga raka’at. Dalam hal ini ia harus     menyempurnakan     shalatnya     hingga melakukan salam kemudian sujud sahwi dan salam, jika keraguan tersebut segera timbul setelah shalat. Namun jika keraguan tersebut timbul setelah selang waktu yang lama, maka ia harus mengulangi shalat tersebut.

Adapun keraguan diluar dari tiga keadaan ini, maka hal tersebut harus diperhitungkan. Keraguan di dalam shalat terdiri dari dua macam:

 1)  Salah satu dari dua hal lebih berat dalam pikirannya, maka ia bertindak atas apa yang lebih kuat baginya. Kemudian ia menyelesaikan shalatnya berdasarkan hal tersebut dan setelahnya hingga ia salam, kemudian melakukan sujud sahwi dan salam.

 Contohnya: jika seseorang shalat Zhuhur dan mengalami keraguan dalam suatu raka’at apakah ini raka’at kedua atau ketiga. Namun yang paling kuat dalam pikirannya adalah raka’at ketiga, maka ia menjadikan raka’at tersebut sebagai raka’at ketiga dan menyelesaikan sesudahnya hingga ia salam, kemudian sujud sahwi lalu salam.

Dalilnya apa yang telah tsabit dalam kedua kitab Shahih dan yang lainnya dari hadits Abdulah bin Mas’ud رضي الله عنهbahwa Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ اَلصَّوَابَ  فلْيُتِمَّ عَلَيْهِ  ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ.  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ هذا لفظ البخاري

Apabila salah satu dari kalian ragu dalam shalatnya, hendaknya ia memilih yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan shalatnya, lalu melakukan salam lalu sujud dua kali.” [Mutafaq alaihi Ini adalah lafazh al-Bukhari]6

Dalilnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنهbahwasannya Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ  فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى أَثْلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا ؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ  ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ  فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْساً شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ  وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ.  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Apabila salah seorang dari kamu ragu dalam shalatnya dan tidak mengetahui berapa (raka’at) shalat yang dikerjakannya apakah tiga atau empat, hendaklah ia membuang keraguannya dan condong kepada apa yang diyakininya. Kemudian ia melakukan sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah shalat lima (raka’at), maka ia (sujud sahwi-pent) telah menggenapkannya baginya, dan apabila ia menyelesaikan empat raka’at, maka ia adalah penghinaan bagi syaithan.”7

Dan dari contoh keraguan adalah seseorang yang tiba ketika Imam sedang ruku’. Maka ia melakukan takbiratul ihram ketika ia berdiri tegak, dan kemudian ruku, dan hal ini akan berakibat pada tiga keadaan:

  1. Ia yakin bahwa ia telah menemui Imam ketika ia ruku’ sebelum ia bangkit darinya. Maka ia telah mendapatkan raka’at dan bacaan surat Al-Fatihah tidak diwajibkan baginya dalam keadaan ini.
  2. Ia yakin bahwa Imam telah bangkit dari ruku’ sebelum ia mencapainya, maka ia kehilangan raka’at tersebut.
  3. Ia ragu apakah ia mendapatkan imam ketika ia mengerjakan ruku’ – sehingga ia mendapatkan raka’at tersebut, atau Imam telah bangkit dari ruku’ sebelum ia mendapatkannya sehingga ia kehilangan raka’at tersebut. Maka apa yang lebih condong dari salah satu diantara keduanya didalam pikirannya, ia beramal atasnya dan menyempurnakan shalatnya berdasarkan hal itu sampai salam, kemudian melakukan sujud sahwi dan salam. Kecuali jika ia tidak kehilangan sesuatu dalam shalatnya maka tidak perlu baginya sujud sahwi.

Namun jika tidak ada sesuatu yang lebih condong dalam pemikiannya maka ia beramal atas apa yang telah pasti (yakni ia telah kehilngan satu raka’at), maka ia menyempurna­kan shalatnya berdasarkan hal itu dan sujud sahwi sebelum melakukan salam dan kemudian salam.

 V.    FAIDAH/MANFAAT

Jika ia ragu di dalam shalatnya ia harus beramal terhadap apa yang ia yakini atau atas apa yang lebih condong dalam pikirannya sesuai dengan penjelasan rinci sebelumnya. Kemudian jika jelas baginya bahwa tindakan yang diambilnya telah berkesesuaian dengan kenyataan dan ia tidak menambah atau mengurangi sesuatu dari shalatnya, maka ia tidak perlu lagi melakukan sujud sahwi menurut apa yang dikenal dari madzhab karena keraguan yang timbul sudah tidak ada.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa sujud sahwi tetap dilakukan untuk menghinakan syaithan, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًالِأَرْبَعَ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“…Sedangkan jika ternyata shalatnya tepat empat rakaat, maka dua sujud itu akan menjadi penghinaan bagi syaithan.”8

Dan juga karena ia telah melakukan suatu bagian dari shalatnya dalam keadaan ragu-ragu mengenai pelaksanaannya, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.

Contohnya adalah jika seseorang shalat dan ragu dalam salah satu raka’at apakah itu raka’at kedua atau ketiga. Tidak satupun dari kedua kemungkinan ini yang lebih berat dalam pikirannya,  maka hendaklah ia menjadikan raka’at tersebut sebagai raka’at kedua dan selesaikanlah shalatnya berdasarkan hal itu. Tetapi ketika melanjutkan (shalatnya), menjadi jelas baginya bahwa hal itu benar raka’at kedua. Dalam keadaan seperti ini tidak ada sujud sahwi yang diwajibkan atasnya menurut pendapat madzhab yang masyhur. Akan tetapi sujud sahwi sebelum salam diwajibkan atasnya menurut pendapat kedua yang menurut kami lebih disukai.

 

 VI.   SUJUD SAHWI BAGI MAKMUM

Apabila Imam lupa (dalam shalatnya) maka wajib bagi orang yang bermakmum dalam shalat untuk mengikutinya dalam melakukan sujud sahwi berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

إِنَّمَا جَعَلَ الإِمَامَ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيهِ.. إلى أن قال :.. وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا “. متفق عليه من حديث أبي هريرة رضي الله عنه

Imam ditunjuk untuk diikuti, maka tidak boleh menyelisihi imam…,sampai sabda beliau “…maka apabila ia sujud maka sujudlah[HR. Mutafaqun ‘Alaihi dari Abu Hurairah]9

Baik Imam tersebut sujud sahwi sebelum salam ataupun sesudahnya, wajib bagi orang-orang yang bermakmum di belakangnya untuk mengikutinya. Kecuali bagi orang yang datang terlambat dan harus mengganti raka’at yang ditinggalkannya. Ia tidak boleh mengikuti Imam melakukan sujud sahwi setelah salam, karena hal tersebut tidak mungkin baginya. Hal ini karena ia tidak melakukan salam bersama dengan Imam, maka apa yang harus dilakukannya adalah mengganti apa (raka’at) yang ditinggalkannya kemudian salam, lalu sujud sahwi kemudian salam.

Contohnya apabila seorang seseorang mendatangi shalat dan menjumpai Imam mengerjakan raka’at terakhir dan imam wajib mengerjakan sujud sahwi setelah shalat. Maka ketika imam salam, orang yang masbuk tersebut harus berdiri me­nyempurnakan apa yang ia tinggalkan dan tidak sujud bersama Imam. Kemudian ketika ia telah menyelesaikan apa yang ia tinggalkan dan telah melakukan salam, maka ia harus melakukan sujud sahwi setelah salam.

Akan tetapi jika makmum yang lupa ketika shalat bersama imam namun tidak ada (raka’at) dari shalat yang ia tinggalkan, maka tidak ada sujud sahwi yang diwajibkan atasnya. Hal ini karena sujud (sujud sahwi) yang dilakukannya akan menyebabkan dirinya menyelisihi Imam dan merusak keadaannya yang bermakmum kepada Imam. Sebagaimana para sahabat رضي الله عنهmeninggalkan tasyahud ketika Nabi صلى الله عليه وسلمlupa, mereka berdiri bersama beliau dan tidak duduk tasyahud dalam rangka memenuhi kewajiban mengikuti serta tidak menyelisihi Imam.

Dan apabila ia kehilangan bagian dari shalat karena ia sendiri lupa ketika shalat di belakang Imam atau ketika mengerjakan (bagian) yang ia tinggalkan, maka ia harus sujud sahwi setelah menyelesaikan yang ia tinggalkan. Sujud ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah salam, tergantung penyebabnya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Contohnya: ketika seorang makmum lupa mengucapkan ‘Subhana rabbial adzim’ pada saat ruku’, namun ia tidak ketinggalan apapun di dalam shalat, maka ia tidak perlu melakukan sujud sahwi. Akan tetapi jika ia sampai kehilangan satu raka’at atau lebih, maka ia harus menggantikannya dan kemudian sujud sahwi sebelum salam.

Contoh selanjutnya jika seorang makmum shalat Dzhuhur dibelakang Imam, maka ketika Imam berdiri untuk raka’at keempat, sang makmum tetap duduk karena mengira itu adalah raka’at terakhir. Tetapi manakala ia mengetahui Imam telah berdiri dan ia pun berdiri serta tidak menyebabkan ia kehilangan sesuatu dari shalat tersebut, maka tidak wajib atasnya sujud sahwi. Dan apabila hal tersebut menyebabkan ia ketinggalan satu raka’at atau lebih maka ia harus mengerjakannya sampai salam lalu sujud sahwi, kemudian salam.

Sujud ini dikarenakan duduk yang dilakukannya tersebut telah menambah sesuatu di dalam shalat ketika Imam telah berdiri untuk raka’at keempat.

 

KESIMPULAN

 Dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya, telah jelas bahwa sujud sahwi kadang-kadang dilakukan sebelum salam dan kadang-kadang dilakukan setelahnya.

Sujud sahwi dilaksanakan sebelum salam pada dua keadaan:

  1. Apabila terjadi pengurangan, berdasarkan hadits Abdullah bin Burainah رضي الله عنهbahwa Nabi صلى الله عليه وسلمsujud sahwi sebelum salam ketika beliau meninggalkan tasyahud pertama, sebagaimana lafadz hadits yang telah disebutkan terdahulu.
  2. Jika hal tersebut karena ragu ketika ia tidak dapat membedakan mana dari dua ke­mungkinan yang lebih condong dalam pikirannya. Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه mengenai seseorang yang ragu-ragu dalam shalatnya dan tidak tahu berapa raka’at yang telah dikerjakannya, apakah tiga atau empat. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan orang yang mengalami keadaan yang demikian untuk melakukan sujud sahwi sebelum salam, sebagaimana hadits beserta lafadznya telah disebutkan sebelumnya.

Sujud sahwi dilaksanakan setelah salam :

  1. Apabila terjadi penambahan di dalam shalat, berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنهketika Nabi صلى الله عليه وسلمshalat Dzhuhur lima raka’at dan mereka mengatakan kepada beliau setelah shalat, maka beliau melakukan dua sujud dan kemudian salam. Dan beliau صلى الله عليه وسلم tidak menjelaskan bahwa sujud yang beliau lakukan setelah salam tersebut disebabkan beliau baru mengetahui adanya penambahan setelah hal tersebut dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa hukum ini bersifat umum dan sujud karena penambahan harus dilaksanakan setelah salam, tidak memandang apakah ia mengetahui penambahan tersebut sebelum salam atau sesudahnya.

Juga termasuk seseorang yang lupa dan melakukan salam sebelum menyempurnakan shalat lalu ia mengingatnya dan me­nyempurnakannya. (Ini berarti) ia telah menambah salam dalam shalat, maka ia harus sujud setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنهbahwa Nabi salam pada shalat Dzhuhur atau Ashar setelah dua raka’at. Mereka memberitahukan kepada beliau, maka beliau menyempurnakan shalat kemudian salam, lalu sujud sahwi. Sebagaimana hadits beserta lafazhnya telah disebutkan sebelumnya.

  1. Jika hal itu karena lupa ketika salah satu dari dua kemungkinan lebih condong dalam pikiran seseorang, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud رضي الله عنهbahwa Nabi صلى الله عليه وسلمmemerintahkan orang yang lupa dalam shalatnya untuk mengikuti apa yang telah pasti. Kemudian menyelesaikan shalatnya berdasarkan hal tersebut sampai salam kemudian sujud. Sebagaimana hadits beserta lafazhnya telah disebutkan.

Tetapi jika dia merasa ragu dalam kedua keadaan secara bersamaan, yang salah satunya mengharuskan ia sujud sebelum salam dan yang lain mengharuskan ia sujud setelah salam. Maka menurut pendapat ulama bahwa sujud sebelum salam terlebih dahulu, maka ia harus sujud terlebih dahulu sebelum salam.

Contohnya kasusnya adalah:

Seseorang yang shalat Zhuhur berdiri untuk raka’at ketiga tanpa duduk untuk tasyahud pertama. Kemudian ia duduk di raka’at ketiga, dan ia mengira bahwa itu adalah raka’at kedua. Lalu ia ingat bahwa itu adalah raka’at ketiga, maka ia harus berdiri melaksanakan raka’at yang berikut­nya, dan sujud sahwi kemudian salam. Namun orang tersebut meninggalkan tasyahud awal yang mengharuskan ia sujud sebelum salam dan menambahkan duduk di raka’at ketiga yang mengharuskan ia sujud setelah salam. Maka sujud sebelum salam mendahului.

Reff:

1 HR. Muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam (kitab) As-Shalah, bab: maa ja’a fii al-qiblah (404) yang redaksionalnya sangat pendek dan pada hadits (401) redaksionalnya sangat panjang, dalam (kitab) sahwi (1227) dan juga dalam pembahasan-pembahasan lainnya. Sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya dalam kitan Al-Masajid, bab: As-Sahwi fii As-Shalah (91) dan (572)

2 Para perawi al-Jama’ah lainnya: Abu Dawud meriwayatkannya dalam (kitab) Ash-Shalah, bab: idza shalla khamsan (2019) dan (1020), At-Tirmidzi meriwayatkannya dalam bab maa ja’a fii sajdatai as-sahwi ba’da as-salam wa al-kalam (392), An-Nasa’I meriwayatkannya dalam; As-Sahwi, bab At-Taharry (III/33) (1242)dan (1243), dan Ibnu Majah dalam: Iqamah ash-shalah, bab: ma ja’a fiiman syakka fii shalatihi (1211).

3Hal ini juga dikategorikan menambah shalat kerena ia telah menambah salam pada saat dia masih mengerjakan shalat

4 Al-Bukhari meriwayatkannya dalam: Ash-Shalah, bab: Tasybik al-ashabi’ fii al-Masajid wa Ghairihi (482) redaksionalnya sangat panjang, sedang dalam al-Adzan redaksionalnya sangat pendek (714) dan (715), dalam As-Sahwi (1226) dan dalam pembahasan-pembahasan lainnya. Sedangkan imam Muslim meriwayatkannya dalam: Al-Masajid, bab: As-Sahwu fii ash-Shalat (97) dan (573)

5 HR. Al-Bukhari: Al-Adzan bab: man lam yara at-Tasyahud wajiban…(829), dalam dalam As-Sahwi (1223, 1225) dan dalam pembahasan-pembahasan lainnya. Sedangkan imam Muslim meriwayatkannya dalam: Al-Masajid, bab: As-Sahwu fii ash-Shalat (850) dan (570)

6 HR. Al-Bukhari: Ash-Shalah, bab: At-Tawajjuh nahwa al-Qiblah (401), dan imam Muslim meriwayatkannya dalam: Al-Masajid, bab: As-Sahwu fii ash-Shalah (89) dan (572)

7 HR. Muslim dalam: Al-Masajid, bab: As-Sahwu fii ash-Shalah (88) dan (571)

8 Dari Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri, sudah di takhrij di depan

9 HR. Al-Bukhari dalam: Al-Jama’at, bab: Innama ju’ila al-Imam liutammima bihi (657), Muslim dalam: Ash-Shalah, bab: I’timamu al-Makmum bil imam (412), ditambahkan dalam riwayat Abu Dawud dalam Ash-Shalah, bab: Al-Imam Yushally Min Qu’udin (604): “dan apabila ia membaca, maka dengarkanlah dengan tenang”. An-Nasa’I dalam Iftitah (920), Ibnu Majah (846) dan Imam Ahmad (II/420).

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beserta keluarga dandan para sahabatnya.

Di ambil dari ebook, Ibnu Majjah@2009

 Risalah ini telah selesai ditulis oleh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, pada tanggal 3 / 4 / 1400 H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s